Indonesia | English | العربية

Kajian Muslimah: Banyak Orang Mengejar Harta sampai Lupa Ketenangan Batin



Bandung – Banyak orang bekerja keras demi mengejar harta, tetapi justru kehilangan kesehatan, keharmonisan keluarga, dan ketenangan batin. Persoalan inilah yang menjadi sorotan dalam KAMUS (Kajian Muslimah) Majelis Ta'lim Baitul Mu’min yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026 atau 26 Muharram 1448 H di Masjid Baitul Mu’min RW 15 Pasirjati.

Kajian tersebut menghadirkan Ustadz H. Muslihudin Ma'mun, M.Pd.I dengan tema “Manusia yang Menenangkan, Bukan Meresahkan.” Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah menilai kembali arah hidup agar ibadah tidak berhenti pada gerakan lahiriah, tetapi benar-benar melahirkan hati yang teduh dan perilaku yang menenteramkan. 

“Percuma ganti tahun kalau tidak ganti cara berpikir,” kata Ustadz Muslihudin. Ia mengingatkan bahwa seseorang dapat saja rajin membaca Al-Qur’an dan berzikir, tetapi masih diliputi keresahan apabila hati belum benar-benar tunduk kepada Allah. 

Ia kemudian menjelaskan bahwa manusia sering salah menilai rezeki karena terlalu berfokus pada uang dan kekayaan. Dalam kajian tersebut, harta disebut sebagai tingkatan rezeki paling rendah karena dapat dimiliki oleh siapa saja, bahkan diperoleh melalui cara yang tidak benar. Karena itu, harta tidak semestinya memenuhi seluruh ruang pikiran manusia. 

“Harta itu rezeki yang paling rendah. Bukan berarti tidak boleh dipikirkan, tetapi jangan sampai seratus persen hidup kita hanya digunakan untuk mencarinya,” ujarnya di hadapan jamaah. 

Setelah harta, kesehatan ditempatkan sebagai rezeki yang lebih tinggi. Ustadz Muslihudin menuturkan bahwa kesehatan tidak dapat dibeli meskipun seseorang memiliki banyak uang. Rumah sakit, menurutnya, hanya menyediakan pengobatan, sedangkan kesembuhan tetap berada dalam kekuasaan Allah. 

“Di rumah sakit tidak ada yang menjual sehat. Yang dijual adalah obat. Siapa yang menyembuhkan? Allah,” tuturnya, sambil mengajak jamaah lebih banyak mensyukuri tubuh yang masih sehat dan mampu digunakan untuk beribadah. 

Tingkatan rezeki berikutnya adalah anak yang saleh dan salehah. Ia menilai anak yang baik jauh lebih berharga daripada aset, kendaraan, maupun tabungan. Namun, kesalehan anak tidak lahir secara otomatis, melainkan memerlukan doa, keteladanan, pendidikan, perhatian, dan pengawasan terhadap lingkungan pergaulan. 

“Satu hal yang tidak bisa kita cetak sendiri di rumah adalah anak yang saleh. Karena itu, teruslah meminta kepada Allah agar anak-anak kita jatuh akhirnya menjadi saleh dan salehah,” katanya. 

Adapun rezeki paling istimewa, menurut Ustadz Muslihudin, adalah keridaan Allah. Pencapaian tersebut tidak hanya diraih melalui banyaknya ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak yang baik, kemauan memaafkan, kasih sayang kepada sesama, serta kesanggupan menjaga lisan dan tangan dari menyakiti orang lain. 

“Kalau ingin menjadi orang yang memberikan ketenangan, biasakan bertutur kata yang baik. Pastikan orang di sekitar kita selamat dari lisan dan tangan kita,” pesannya. Menahan ucapan kasar, menurutnya, merupakan sedekah yang nilainya tidak kecil. 

Selain menjaga ucapan, jamaah juga diingatkan agar tidak mudah melampiaskan amarah. Ustadz Muslihudin menerangkan bahwa orang kuat bukanlah mereka yang selalu menang dalam pertengkaran, melainkan mereka yang mampu menguasai diri ketika emosi memuncak. Ia menyarankan agar seseorang beristigfar, berwudu, dan mengambil jarak sebelum mengucapkan sesuatu yang nantinya disesali. 

“Orang yang hebat adalah orang yang bisa menahan amarahnya ketika dia marah,” ujarnya. Menurutnya, amarah yang tidak terkendali hampir selalu meninggalkan penyesalan, merusak hubungan, dan menjadikan rumah yang seharusnya nyaman berubah menjadi tempat yang meresahkan. 

Menutup kajian, Ustadz Muslihudin mengajak jamaah menjadikan awal 1448 Hijriah sebagai momentum untuk memperbaiki cara pandang dan menebarkan harapan. Ia berharap setiap muslimah dapat menghadirkan ketenangan mulai dari rumah, lalu meluas kepada tetangga, pertemanan, dan masyarakat.
Kajian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan hidup tidak semata diukur dari banyaknya harta, melainkan dari kesehatan yang terjaga, anak yang saleh, akhlak yang menenangkan, dan keridaan Allah. 

Dengan bekal itulah seorang muslim diharapkan tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga benar-benar menjadi pribadi yang kehadirannya dirindukan dan bukan dihindari.





© Masjid Baitul Mu'min