Indonesia | English | العربية
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Ustadz Ahmad Humaedi: Silaturahim sebagai Kunci Surga dan Kedamaian Hati

 


Bandung – Masjid Baitul Mu'min menyelenggarakan acara puncak rangkaian kegiatan bulan suci Ramadan dengan tajuk Halal Bi Halal yang meriah dan penuh kekeluargaan. Acara ini menjadi ajang silaturahmi bagi warga RW 15 serta para jemaah untuk mempererat tali persaudaraan pasca-Idul Fitri 1447 H.

Dalam tausiah utamanya, Ustadz Dr. H. Ahmad Humaedi, M.Si. menekankan bahwa tradisi Halal Bi Halal di Indonesia merupakan sarana positif untuk menyatukan elemen bangsa. Beliau merujuk pada sejarah peristiwa tahun 1948 di mana para tokoh bangsa menggunakan momentum ini untuk meredam friksi di tengah masyarakat.

Ustadz Ahmad Humaedi menjelaskan bahwa inti dari kegiatan ini adalah silaturahim. Menurut beliau, merujuk pada pandangan Imam Nawawi, silaturahim bermakna berbuat baik kepada kerabat, yang menjadi ciri utama orang beriman.

Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya menjaga hubungan dengan Allah sebagai fondasi utama kebahagiaan. Seseorang yang hatinya tersambung dengan Allah akan merasakan kedamaian, terutama saat mendengar azan atau melakukan ibadah.

Salah satu pesan yang disampaikan adalah mengenai keikhlasan dalam memberi. Ustadz Ahmad mengingatkan bahwa harta yang dimiliki hendaknya digunakan sebagai sarana untuk memperkuat silaturahim dengan membantu saudara-saudara yang membutuhkan.

Beliau juga memberikan nasihat praktis mengenai konflik rumah tangga. Ustadz Ahmad menekankan pentingnya mengucapkan salam untuk mendinginkan suasana saat terjadi perselisihan. 

"Sekesal-kesalnya kita, salam adalah pembuka pintu damai," ujar beliau.

Dalam ceramahnya, beliau menyebutkan bahwa silaturahim adalah salah satu jalan menuju surga. Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW tentang empat hal: menebarkan salam, memberi makan, menjaga silaturahim, dan salat malam.

Selain itu, silaturahim dipercaya dapat meluaskan rezeki dan memanjangkan usia. Beliau menjelaskan bahwa usia panjang tidak sekadar durasi hidup, melainkan keberkahan usia di mana seseorang dimudahkan untuk melakukan berbagai kebaikan.

Menyinggung fenomena saat ini, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak hanya berinteraksi melalui stiker atau pesan digital. 

"Pertemuan langsung adalah bentuk silaturahim yang sesungguhnya," tegas beliau.

Acara juga diisi dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Mas Anfa. Ia mengungkapkan keberhasilan program seperti Ramadan Camp yang sempat vakum dan akhirnya terlaksana kembali tahun ini.

Ketua DKM Masjid Baitul Mu'min, H. Uwes Fatoni, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur dan panitia yang telah bekerja keras menyukseskan rangkaian acara Ramadan 1447 H.

Ketua RW 15, Ustadz Heru Heryanto, dalam sambutannya mengajak warga untuk terus menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan. Beliau mengingatkan bahwa bentuk ketaatan terbaik adalah yang terus berlanjut setelah bulan suci berakhir.


 

Teguhkan Semangat Kebersamaan dan Keberlanjutan Ibadah

 


Masjid Baitul Mu’min dipadati ribuan jemaah saat pelaksanaan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan 21 Maret 2026. Suasana berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur sebagai penanda berakhirnya Ramadan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Ali Abu Sabiq, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara berkelanjutan.

“Idul Fitri harus menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, bukan hanya dirayakan secara lahiriah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan dengan mengutip pandangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali bahwa keberlanjutan amal merupakan indikator diterimanya ibadah selama bulan suci.

“Amalan setelah Ramadan adalah tanda diterimanya amalan selama Ramadan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an dan melaksanakan salat malam perlu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan kembali lalai setelah Ramadan. Jadikan ibadah sebagai kebutuhan, bukan hanya kebiasaan musiman,” tegasnya.

Dalam khutbah bertema Al-Muhafazah ‘ala Ibadah, ia menyampaikan bahwa ibadah tidak boleh dibatasi oleh waktu tertentu dan harus dilakukan secara konsisten sepanjang tahun.

“Ibadah tidak mengenal batas waktu. Ia harus hidup dalam setiap aktivitas kita,” katanya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya hubungan sosial antarsesama manusia serta mengajak jemaah untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Tidak sempurna iman seseorang ketika ia kenyang sementara tetangganya kelaparan,” ujarnya mengutip hadis Nabi Muhammad SAW.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam perspektif mazhab Syafi’i, cakupan tetangga sangat luas hingga mencapai 40 rumah ke berbagai arah.

“Ini menunjukkan betapa luasnya tanggung jawab sosial seorang Muslim,” tambahnya.

Momentum Idul Fitri, lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat silaturahim, terutama dengan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

“Jangan pernah lupakan doa untuk kedua orang tua dalam setiap kesempatan,” pesannya.

Ia turut mengingatkan jemaah agar tidak melupakan kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina, serta mendorong lahirnya solidaritas melalui doa dan bantuan nyata.

“Saudara kita di Palestina membutuhkan doa dan kepedulian kita,” ucapnya.

Menutup khutbahnya, ia mengajak jemaah untuk memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan umat secara berkelanjutan.

“Masjid harus tetap hidup, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu,” pungkasnya.

 

Apa Itu Fajar Shadiq? Pengertian, Ciri-ciri, dan Kaitannya dengan Waktu Subuh

 



Fajar shadiq merupakan salah satu peristiwa alam yang sangat penting dalam Islam karena menjadi penanda masuknya waktu sholat Subuh. Memahami perbedaan antara fajar shadiq dan fajar kadzib membantu umat Islam menentukan waktu ibadah secara tepat.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Waktu sholat Subuh adalah sejak terbit fajar (shadiq) selama matahari belum terbit.”
(HR. Muslim)


Pengertian Fajar Shadiq

Menurut buku Kajian Waktu Subuh karya Marataon Ritonga dkk., fajar shadiq adalah cahaya putih terang yang menyebar horizontal di ufuk timur setelah hilangnya fajar kadzib.

Secara astronomi, fajar shadiq terjadi karena hamburan sinar Matahari oleh atmosfer bagian atas sebelum Matahari terbit. Inilah tanda awal dimulainya siang hari secara syar’i.

Ketika fajar shadiq muncul:

  • Waktu shalat Subuh telah masuk

  • Waktu sahur berakhir bagi orang yang hendak berpuasa

Dalam Al-Qur’an, peristiwa ini diisyaratkan sebagai:

“Terang bagimu benang putih dari benang hitam.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ungkapan ini menggambarkan peralihan dari gelapnya malam menuju munculnya cahaya fajar.


Ciri-ciri Fajar Shadiq

Berikut ciri-ciri utama fajar shadiq yang dapat dikenali:

  • Berwarna putih terang

  • Cahaya menyebar secara mendatar (horizontal) di ufuk timur

  • Intensitas cahaya terus meningkat secara perlahan

  • Tidak redup atau menghilang setelah muncul

Meski secara ilmiah mengandung rona kebiruan, warna tersebut sulit terlihat oleh mata karena cahaya masih sangat halus.

Kemunculan fajar shadiq menandai dimulainya waktu Subuh dan berakhir saat Matahari terbit.


Kaitan Fajar Shadiq dengan Waktu Sholat Subuh

Dalam kitab Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq (terjemahan Khairul Amru Harahap dkk.), dijelaskan bahwa:

  • Awal waktu sholat Subuh dimulai saat terbit fajar shadiq

  • Akhir waktunya adalah saat matahari terbit

Hal ini menjadi kesepakatan para ulama. Namun, terdapat perbedaan pendapat tentang waktu paling utama (afdhal) melaksanakan sholat Subuh.

Pendapat Ulama tentang Waktu Afdhal Sholat Subuh

  1. Abu Hanifah, Ats-Tsauri, dan sebagian ulama Irak berpendapat:

    • Waktu paling utama adalah saat cahaya Subuh sudah mulai terang.

  2. Imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, dan Dawud berpendapat:

    • Waktu paling utama adalah di awal waktu, ketika masih gelap.

Perbedaan ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dan mengompromikan dalil hadits.


Kesimpulan

Fajar shadiq adalah cahaya putih yang menyebar di ufuk timur dan menjadi tanda masuknya waktu sholat Subuh serta berakhirnya waktu sahur. Memahami ciri-cirinya membantu umat Islam beribadah lebih tepat waktu sesuai tuntunan syariat.


© Masjid Baitul Mu'min