Bandung – DKM Baitul Mu’min selenggarakan Salat Jumat Berjamaah, Jumat (10 Juli 2026). Dalam khutbah Jumatnya, Ustaz Assa Alghifari dari KUA Kecamatan Cilengkrang menekankan bahwa keimanan harus dijaga, dievaluasi, lalu dibuktikan melalui amal saleh dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Menurut Ustaz Assa, bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan Allah sehingga seharusnya diisi dengan rasa syukur, perbaikan diri, dan penguatan ibadah. Ia menyampaikan bahwa nikmat terbesar yang patut disyukuri bukan semata kesehatan, harta, atau kedudukan, melainkan iman yang tidak diberikan kepada setiap manusia.
“Iman ini sesuatu yang sangat berharga. Tidak Allah berikan kepada semua orang,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa rezeki dunia diberikan Allah kepada manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan iman merupakan anugerah istimewa yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh.
Ia menjelaskan, keimanan tidak boleh berhenti pada pengakuan lisan. Iman sejati seharusnya mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dosa, menjauhi korupsi, tidak mengambil hak orang lain, dan memperbanyak amal yang bermanfaat. Karena itu, setiap muslim perlu memeriksa kembali apakah keyakinannya telah benar-benar memengaruhi perilaku sehari-hari.
“Dunia boleh berubah, tetapi iman tetap tidak boleh berubah dalam keadaan apa pun,” katanya. Harapan seorang mukmin, lanjutnya, bukan hanya menjaga iman untuk dirinya sendiri, tetapi juga memastikan anak dan cucunya tetap hidup dalam keimanan hingga akhir zaman.
Tema muhasabah menjadi bagian utama dalam khutbah tersebut. Ustaz Assa mengajak jamaah mengevaluasi salat, hubungan dengan pasangan, perhatian kepada anak, sikap terhadap orang tua, serta hubungan dengan tetangga. Introspeksi dinilai penting karena usia manusia terbatas dan setiap amanah pada akhirnya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.
“Sebelum kita diminta pertanggungjawaban, lebih baik kita menghisab diri kita sendiri,” tuturnya. Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu teguran di akhirat untuk menyadari kesalahan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki sejak sekarang.
Kepada para suami dan ayah, ia memberi perhatian khusus tentang tanggung jawab keluarga. Menafkahi keluarga, menurutnya, bukan hanya menyediakan makanan, pakaian, pendidikan, dan tempat tinggal.
Seorang kepala keluarga juga harus memastikan istri dan anak memahami agama, mengenal Allah, menjalankan salat, serta tumbuh dalam lingkungan yang mendekatkan mereka kepada keselamatan akhirat.
“Kita tidak hanya ditanya bagaimana memberi makan dan pakaian kepada anak istri, tetapi juga bagaimana ibadah istri kita dan ibadah anak kita,” tegasnya.
Karena itu, pendidikan agama di rumah tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, guru, atau lembaga keagamaan.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti mencari ilmu. Ilmu agama diperlukan untuk mengontrol kualitas iman, memperbaiki ibadah, dan menilai apakah hubungan dengan sesama telah berjalan sesuai tuntunan. Menguasai ilmu dunia dinilai baik, tetapi tidak boleh membuat seseorang mengabaikan ilmu yang membimbing jalan hidup dan akhiratnya.
“Mari kita bermuhasabah, salat kita bagaimana, hubungan dengan istri seperti apa, hubungan dengan orang tua, anak, dan tetangga seperti apa,” katanya.
Semua itu, menurutnya, harus dievaluasi sebelum manusia kehilangan kesempatan untuk memperbaikinya.
Pada bagian akhir khutbah, Ustaz Assa mengajak umat Islam meneladani semangat hijrah Rasulullah SAW. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah berjuang selama bertahun-tahun dengan pikiran, tenaga, harta, bahkan mempertaruhkan keselamatan diri demi mengajak manusia meninggalkan kejahilan dan mengenal Allah.
“Boleh kita saleh secara pribadi, tetapi jangan merasa puas kalau keluarga dan orang di sekitar kita belum sama-sama menuju kebaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa umat terbaik bukan hanya rajin beribadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga aktif mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Menutup khutbah, Ustaz Assa berharap umat Islam tidak hanya menjadi saleh secara individual, tetapi juga menghadirkan kesalehan sosial. Ia mengajak jamaah menjaga iman, memperbaiki keluarga, menolak korupsi dan keonaran, serta terus berdoa agar hati tidak menyimpang setelah mendapat petunjuk.
Dengan iman yang terpelihara dan amal saleh yang konsisten, ia berharap umat Nabi Muhammad SAW menjadi umat yang membanggakan Rasulullah dan memperoleh keselamatan dunia serta akhirat.