BANDUNG— Yayasan Baitul Mu’min bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Raudhatul Athfal (RA), dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Baitul Mu’min menggelar musyawarah untuk merumuskan arah pengembangan pendidikan Islam yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Musyawarah berlangsung di Masjid Baitul Mu’min pada Senin pagi, (13 Juli 2026).
Musyawarah tersebut dihadiri Ketua Yayasan Baitul Mu’min Heru Heryanto, Sekretaris Yayasan Baitul Mu’min Darminto, Ketua DKM Baitul Mu’min Uwes Fatoni, serta seluruh guru RA dan MDTA Baitul Mu’min. Pertemuan membahas potensi peserta didik, pengembangan jenjang pendidikan, peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, serta pemenuhan sarana pembelajaran.
Ketua DKM Baitul Mu’min Uwes Fatoni mengatakan bahwa yayasan memiliki tanggung jawab untuk membangun sistem pendidikan yang mampu mendampingi anak-anak sejak usia dini hingga remaja. Menurutnya, potensi sekitar 150 anak usia sekolah di lingkungan RW harus dijawab melalui pelayanan pendidikan Islam yang terencana dan berkesinambungan.
“Potensi anak-anak di lingkungan kita cukup besar. Karena itu, Yayasan Baitul Mu’min perlu menyiapkan pendidikan yang tidak berhenti pada satu jenjang, tetapi berlanjut dari RA, MDTA, MDTW, hingga pembinaan remaja masjid,” ujar Uwes Fatoni dalam musyawarah tersebut.
Dalam musyawarah disepakati pola pembinaan pendidikan secara berjenjang, dimulai dari RA Baitul Mu’min, dilanjutkan ke MDTA, kemudian Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha atau MDTW, dan diteruskan melalui pembinaan Remaja Masjid Baitul Mu’min. Sistem tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan pendidikan agama anak sejak usia dini hingga memasuki masa remaja.
Sekretaris Yayasan Baitul Mu’min Darminto menjelaskan bahwa pengembangan jenjang pendidikan perlu didukung oleh pengelolaan kelembagaan yang tertib. Ia menyampaikan bahwa pendataan peserta didik, pembagian tugas guru, penyempurnaan struktur organisasi, serta evaluasi program harus dilakukan secara berkala agar kegiatan pendidikan berjalan lebih efektif.
“Pengembangan lembaga harus disertai administrasi yang rapi, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, setiap program dapat dilaksanakan secara terukur dan dapat terus diperbaiki,” kata Darminto.
Pembelajaran MDTA direncanakan berlangsung dalam dua pilihan waktu, yaitu kelas Asar dan kelas Magrib. Sementara itu, MDTW akan dikembangkan untuk menampung lulusan MDTA dan peserta didik tingkat SMP hingga SMA agar mereka tetap memperoleh pembinaan keagamaan serta memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasjidan.
Ketua Yayasan Baitul Mu’min Heru Heryanto menegaskan bahwa pendidikan yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi keagamaan. Menurutnya, lembaga pendidikan Baitul Mu’min harus mampu membentuk akhlak, karakter, kecakapan berpikir, kemampuan berkomunikasi, serta budaya literasi peserta didik.
“Pendidikan di Baitul Mu’min tidak hanya diarahkan agar anak memahami pelajaran agama, tetapi juga agar mereka menjadi pribadi yang jujur, disiplin, amanah, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu berkomunikasi dengan baik,” ujar Heru Heryanto.
Penguatan karakter moral akan mencakup pembiasaan sikap jujur, sopan santun, amanah, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Adapun karakter kinerja yang akan dikembangkan meliputi kedisiplinan, kemandirian, keuletan, kerja keras, serta kemampuan menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab. Program literasi juga akan diperluas melalui literasi membaca, budaya, keuangan, dan pembiasaan membaca sejak dini.
Heru Heryanto menambahkan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada kemampuan dan kesejahteraan guru. Oleh sebab itu, yayasan akan memfasilitasi pembinaan, pelatihan, serta pengembangan profesional tenaga pendidik secara berkala. Yayasan juga akan mengupayakan penghargaan dan perhatian terhadap kesejahteraan guru sesuai kemampuan lembaga.
Dalam bidang kurikulum, Darminto menerangkan bahwa Yayasan bersama DKM akan mengawal penerapan kurikulum RA, MDTA, dan MDTW dengan tetap mengacu pada ketentuan Kementerian Agama. Kurikulum tersebut akan diperkaya dengan muatan lokal, pendidikan karakter, serta kearifan khas Baitul Mu’min agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi masyarakat sekitar.
Musyawarah juga menetapkan Rika Nurjanah sebagai Kepala MDTA Baitul Mu’min periode 2026–2029 menggantikan Mulah Kamilah. Untuk mendukung pembukaan kelas malam dan meningkatkan efektivitas pembelajaran, yayasan merencanakan penambahan tiga hingga empat orang guru serta melakukan pendataan ulang terhadap santri dan latar belakang pendidikan tenaga pendidik.
Uwes Fatoni berharap sinergi antara yayasan, DKM, guru, orang tua, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Menurutnya, pendidikan yang berkesinambungan akan membantu melahirkan generasi muda yang memiliki akidah kuat, berakhlak mulia, berpengetahuan, serta aktif dalam kegiatan dakwah dan kemakmuran masjid.
“Tujuan akhirnya bukan hanya membesarkan lembaga pendidikan, tetapi membentuk generasi penerus yang mencintai masjid, memiliki akhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” tutup Uwes Fatoni.

