Lebih dari 1.400 tahun lalu, kehidupan masyarakat Muslim di Madinah tumbuh dengan masjid sebagai salah satu pusatnya.
Masjid pada masa Rasulullah ï·º jauh dari kesan bangunan megah. Bentuk awalnya sederhana, dengan struktur yang berkembang dari rumah Nabi di Madinah dan memiliki halaman terbuka berbentuk persegi panjang, sementara sebagian sisinya diberi naungan dari pelepah kurma sebagai perlindungan dari panas. Bentuk ini kemudian menjadi salah satu prototipe penting bagi perkembangan arsitektur masjid pada masa berikutnya.
Namun pelajaran terpenting dari Masjid Nabawi bukan terletak pada bentuk bangunannya.
Yang jauh lebih penting adalah fungsi sosial yang tumbuh bersama masjid.
Masjid mempertemukan jamaah. Orang-orang datang untuk beribadah, tetapi dari perjumpaan itulah kemudian tumbuh persaudaraan, pembelajaran, musyawarah, dan kehidupan umat.
Karena itu, ketika berbicara tentang Masjid Nabawi kita tidak perlu mengatakan bahwa pada zaman Nabi sudah terdapat taman dalam pengertian taman kota modern.
Yang perlu kita hidupkan adalah semangat ruang bersama itu.
Masjid bukan tempat yang membuat orang datang, salat, lalu saling tidak mengenal.
Masjid justru seharusnya membuat orang yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi bersaudara.
Córdoba: Ruang Terbuka yang Menjadi Bagian dari Masjid
Beberapa abad kemudian, Islam berkembang hingga Andalusia.
Di Córdoba berdiri salah satu peninggalan arsitektur Islam paling terkenal di dunia, yaitu Masjid Agung Córdoba.
Salah satu karakter kompleks masjid ini adalah keberadaan sahn atau halaman terbuka yang menjadi bagian dari struktur masjid. Tradisi halaman terbuka semacam ini menunjukkan bahwa ruang masjid tidak hanya dibentuk oleh ruang tertutup tempat jamaah melaksanakan salat.
Halaman itu berkembang sepanjang perjalanan sejarah dan sekarang dikenal sebagai Patio de los Naranjos, atau halaman pohon jeruk.
Yang menarik untuk kita pelajari bukan sekadar jenis pohonnya.
Yang jauh lebih penting adalah gagasan bahwa di antara ruang ibadah dan kehidupan masyarakat terdapat ruang terbuka yang memungkinkan manusia berjalan, berhenti, berteduh, dan berjumpa.
Ada ruang untuk sujud.
Ada ruang untuk berjalan.
Ada ruang untuk bertemu.
Ada ruang untuk membangun hubungan antarmanusia.
Karena itu, masjid tidak harus berhenti pada dinding bangunannya.
Lingkungan masjid dapat menjadi bagian dari kehidupan jamaah.
Masjid Salman ITB: Ketika Ruang Terbuka Benar-Benar Digunakan
Kita kemudian tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan kita.
Di Bandung terdapat Masjid Salman ITB.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Sosioteknologi ITB memperlihatkan bagaimana kawasan Salman tidak hanya digunakan untuk salat. Aktivitas mentoring berlangsung di serambi maupun taman. Pengajian dan kajian juga menggunakan area terbuka, termasuk taman. Penelitian tersebut bahkan menggambarkan berbagai aktivitas sosial jamaah yang berlangsung di sekitar ruang publik masjid.
Ini menarik.
Sebab taman akhirnya bukan hanya menjadi penghias masjid.
Taman menjadi tempat aktivitas.
Orang bisa duduk.
Orang bisa belajar.
Orang bisa berdiskusi.
Orang bisa berkumpul.
Orang bisa berinteraksi.
Ruang hijau akhirnya memiliki kehidupan karena digunakan manusia.
Dan dari sinilah kita memperoleh pelajaran penting:
Taman yang berada di lingkungan masjid akan mempunyai makna yang lebih besar ketika tidak hanya dilihat, tetapi digunakan dan dirawat oleh jamaah.
Kini Kita Menuju Taman Mepeling Masjid Baitul Mu’min
Semangat itulah yang ingin dikembangkan di lingkungan Masjid Baitul Mu’min
Taman Mepeling merupakan bagian dari Program DKM Masjid Baitul Mu’min Periode 2026–2029.
Tetapi Mepeling tidak boleh dipahami hanya sebagai program membuat taman.
Jika hanya menanam pohon, membuat tempat duduk, kemudian memberi nama “Taman Mepeling”, maka kita baru menyelesaikan bagian fisiknya.
Padahal cita-citanya jauh lebih besar.
MEPELING — Masjid Peduli Lingkungan — adalah gerakan untuk membangun kesadaran bahwa masjid, jamaah, silaturahmi, dan lingkungan merupakan bagian yang saling berhubungan.
Taman hanyalah salah satu ruangnya.
Yang ingin kita bangun sesungguhnya adalah budayanya.
Taman Mepeling: Ruang Hijau, Ruang Silaturahmi
Taman Mepeling ingin menjadikan lahan wakaf di sekitar Masjid Baitul Mu’min sebagai ruang terbuka hijau yang hidup.
Jamaah dapat duduk dan berbincang setelah salat.
Pengurus dapat melakukan pertemuan secara lebih santai.
Orang tua dapat mengajak anak-anak mengenal lingkungan.
Pemuda dapat berkumpul dan melahirkan ide kegiatan.
Jamaah yang selama bertahun-tahun mungkin hanya saling mengenal wajah dapat mempunyai kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat.
Tidak selalu harus ada acara besar.
Tidak harus selalu ada panggung.
Tidak harus selalu ada ceramah.
Kadang-kadang duduk bersama selepas Subuh atau Ashar, berbincang di bawah pohon, bertanya tentang keluarga dan keadaan tetangga, sudah menjadi sebuah cara sederhana untuk memperkuat silaturahmi.
Karena itulah kita ingin mengatakan:
Datang ke masjid untuk beribadah.
Singgah di taman untuk bersilaturahmi.
Mepeling Bukan Hanya Memiliki Taman
Tetapi Masjid Peduli Lingkungan tidak cukup dibuktikan dengan adanya pepohonan dan taman yang hijau.
Masjid peduli lingkungan harus mampu mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan.
Karena itu, Mepeling dikembangkan bukan hanya melalui penghijauan, tetapi juga melalui edukasi dan praktik pengelolaan lingkungan yang melibatkan jamaah.
Ada beberapa gerakan yang menjadi bagian di dalamnya.
SIMPATIK — Sedekah Ikhlas Sampah Plastik
Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna akan diajak untuk dilihat dengan cara yang berbeda.
Melalui program:
**SIMPATIK
Sedekah Ikhlas Sampah Plastik**
jamaah didorong untuk mulai memilah sampah plastik dari rumah dan menyerahkannya melalui mekanisme yang disiapkan masjid.
Nilainya bukan semata-mata berapa rupiah yang diperoleh dari sampah tersebut.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baru.
Anak belajar dari orang tuanya.
Orang tua belajar memilah sampah dari rumah.
Jamaah datang ke masjid tidak hanya membawa sedekah dalam bentuk uang, tetapi juga membawa kepedulian terhadap lingkungan.
Sampah yang tadinya dibuang begitu saja mulai dipilah.
Dan dari tindakan kecil itu kita sedang membangun kesadaran bersama.
Dari Sampah Dapur Menjadi Sesuatu yang Bermanfaat
Mepeling juga akan mengajak jamaah belajar bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada plastik.
Setiap rumah menghasilkan sampah organik dari aktivitas sehari-hari.
Sisa sayuran.
Sisa buah.
Kulit buah.
Sisa bahan makanan.
Daun.
Dan berbagai bahan organik lainnya.
Karena itu, edukasi Mepeling juga diarahkan pada pengolahan sampah organik rumah tangga, antara lain melalui:
pengolahan menggunakan maggot dan komposter Takakura.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada demonstrasi sesaat.
Jamaah akan diajak mengenal prosesnya, melihat praktiknya, dan secara bertahap mencoba menerapkannya di rumah masing-masing.
Maka taman bukan hanya menjadi tempat melihat tanaman.
Taman menjadi laboratorium lingkungan jamaah.
Anak-anak dapat melihat bagaimana sampah organik diproses.
Orang tua dapat belajar bagaimana sampah rumah tangga dipilah.
Jamaah dapat berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari.
Di sinilah Mepeling bergerak dari taman menjadi pendidikan, dari pendidikan menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan menjadi gerakan bersama.
Dari “Masjid yang Bersih” Menuju “Jamaah yang Peduli Lingkungan”
Ini perubahan cara pandang yang ingin dibangun.
Selama ini kita mungkin merasa sudah menjalankan kepedulian lingkungan ketika halaman masjid bersih.
Padahal ada pertanyaan yang lebih besar:
Apakah jamaah yang pulang dari masjid juga mempunyai kesadaran menjaga lingkungan di rumahnya?
Apakah sampahnya dipilah?
Apakah anak-anaknya diajarkan tidak membuang sampah sembarangan?
Apakah kita mulai memahami bahwa makanan yang tersisa, sampah organik, plastik, air, tanah, dan pepohonan mempunyai hubungan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia?
Jika kesadaran tersebut tumbuh, maka keberhasilan Mepeling tidak hanya terlihat dari hijaunya taman Masjid Baitul Mu’min.
Keberhasilannya justru akan terlihat dari perubahan perilaku jamaah.
Mepeling dan Gerakan Ekoteologi
Gagasan tersebut juga bertemu dengan gerakan yang lebih besar yang sedang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar mendorong penguatan ekoteologi, yaitu cara pandang keagamaan yang menempatkan kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam beragama. Kementerian Agama juga mendorong agar ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan nyata menjaga lingkungan.
Ini sangat relevan dengan Mepeling.
Sebab pesan utamanya sederhana:
Beragama tidak membuat manusia jauh dari persoalan bumi.
Justru semakin dekat kepada Allah seharusnya semakin tumbuh kepedulian terhadap ciptaan-Nya.
Salat adalah ibadah.
Sedekah adalah ibadah.
Menuntut ilmu adalah ibadah.
Menolong sesama adalah kebaikan.
Dan menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan kita.
Dengan demikian, Taman Mepeling bukan sekadar program penghijauan DKM.
Ia dapat menjadi ruang praktik ekoteologi dalam kehidupan jamaah sehari-hari.
Mepeling dan Panca Cinta
Semangat tersebut semakin kuat ketika dikaitkan dengan gagasan Panca Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama melalui Kurikulum Berbasis Cinta.
Panca Cinta terdiri atas:
Cinta Allah dan Rasul-Nya
Cinta Ilmu
Cinta Lingkungan
Cinta Diri dan Sesama
Cinta Tanah Air
Kelima cinta itu sebenarnya dapat bertemu di lingkungan masjid.
Cinta Allah dan Rasul-Nya
Jamaah datang ke masjid untuk salat, berzikir, membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tetapi kecintaan kepada Allah tidak berhenti dalam ucapan.
Ia harus menghasilkan akhlak dan perbuatan.
Cinta Ilmu
Mepeling menjadi ruang belajar.
Belajar memilah sampah.
Belajar mengolah sampah organik.
Belajar tentang maggot.
Belajar menggunakan komposter Takakura.
Belajar menanam dan merawat pohon.
Belajar memahami bahwa persoalan lingkungan juga membutuhkan ilmu.
Cinta Lingkungan
Inilah salah satu ruh utama Mepeling.
Menanam pohon.
Merawat taman.
Mengurangi sampah.
Memilah plastik melalui SIMPATIK.
Mengolah sampah organik.
Menjaga kebersihan.
Semua dilakukan bukan sekadar karena ingin lingkungan terlihat indah, tetapi karena tumbuh kesadaran bahwa alam adalah amanah yang harus dijaga.
Cinta Diri dan Sesama
Taman Mepeling menjadi ruang silaturahmi.
Di sini pengurus bertemu jamaah.
Orang tua bertemu orang tua.
Anak bertemu teman.
Tetangga yang jarang berbicara dapat duduk bersama.
Persaudaraan tumbuh bukan hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui perjumpaan-perjumpaan kecil yang terus berlangsung.
Cinta Tanah Air
Mencintai tanah air tidak hanya diucapkan ketika memperingati hari kemerdekaan.
Menjaga kebersihan lingkungan tempat kita tinggal, merawat tanah, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga air, serta mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada anak-anak juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap tempat kita hidup.
Maka cinta lingkungan dan cinta tanah air dapat bertemu dalam tindakan nyata.
Beribadah Sekaligus Mencintai Lingkungan
Inilah pesan besar yang ingin dibangun Taman Mepeling.
Jangan sampai seseorang rajin datang ke masjid tetapi merasa persoalan sampah bukan urusannya.
Jangan sampai kita menjaga kebersihan ruang salat tetapi membuang sampah sembarangan setelah keluar dari halaman masjid.
Jangan sampai anak-anak belajar tentang kebersihan dalam pengajian tetapi tidak pernah melihat orang dewasa mempraktikkannya.
Karena sesungguhnya pendidikan yang paling kuat adalah keteladanan.
Ketika seorang ayah membawa plastik yang telah dipilah ke program SIMPATIK, anak melihat.
Ketika seorang ibu memisahkan sampah dapurnya untuk diolah, anak belajar.
Ketika jamaah selesai menggunakan taman kemudian membersihkan tempat duduknya, orang lain melihat.
Ketika pengurus ikut menanam dan merawat pohon, jamaah memperoleh contoh.
Akhirnya Mepeling tidak hanya berbicara.
Mepeling membiasakan.
Taman yang Hidup Harus Diramaikan
Ada satu hal yang tidak kalah penting.
Taman yang bagus belum tentu menjadi taman yang hidup.
Kita bisa memiliki pohon yang bagus.
Rumput yang hijau.
Bangku yang indah.
Lampu yang menarik.
Tetapi jika tidak ada jamaah yang menggunakannya, Taman Mepeling hanya akan menjadi ruang kosong yang kebetulan berwarna hijau.
Karena itu, setelah taman dibangun, tugas berikutnya justru lebih penting:
MERAMAIKAN TAMAN MEPELING
Datanglah selepas salat.
Duduklah sejenak.
Berbincanglah dengan jamaah lain.
Ajak anak-anak.
Ajak keluarga.
Gunakan untuk diskusi kecil.
Gunakan untuk belajar.
Gunakan untuk silaturahmi.
Gunakan untuk edukasi lingkungan.
Tidak selalu perlu dibuat acara besar.
Kadang-kadang lima jamaah yang duduk selepas Subuh sambil berbincang tentang lingkungan sudah membuat taman hidup.
Anak-anak yang mengenal tanaman membuat taman hidup.
Ibu-ibu yang belajar komposter membuat taman hidup.
Pemuda yang mengelola sampah plastik membuat taman hidup.
Pengurus yang berdiskusi santai dengan jamaah membuat taman hidup.
Sebab taman yang sering digunakan akan lebih dicintai. Dan taman yang dicintai akan lebih mudah dijaga.
Dari Madinah, Córdoba, Salman, hingga Baitul Mu’min
Dari Masjid Nabawi kita belajar bahwa masjid tumbuh bersama kehidupan umat.
Dari Córdoba kita melihat bahwa ruang terbuka menjadi bagian penting dari lingkungan masjid.
Dari Masjid Salman ITB kita melihat bahwa taman dan ruang terbuka dapat benar-benar digunakan untuk mentoring, kajian, belajar, dan berbagai interaksi sosial jamaah.
Dan kini, di Masjid Baitul Mu’min, kita ingin menuliskan cerita kita sendiri.
Cerita tentang sebuah lahan wakaf yang dihidupkan.
Cerita tentang jamaah yang tidak langsung pulang setelah salat, tetapi mempunyai ruang untuk bertemu.
Cerita tentang anak-anak yang tumbuh dengan melihat orang tuanya menjaga lingkungan.
Cerita tentang sampah plastik yang menjadi sedekah melalui SIMPATIK.
Cerita tentang sampah dapur yang tidak sekadar dibuang, tetapi dipelajari pengolahannya dengan maggot dan komposter Takakura.
Cerita tentang masjid yang tidak hanya mengajak jamaah menjaga kebersihan masjid, tetapi ikut mendidik jamaah untuk menjaga bumi.
Semua itu adalah bagian dari Program DKM Masjid Baitul Mu’min Periode 2026–2029.
Dan semoga kelak ketika pohon-pohon di Taman Mepeling semakin besar, anak-anak kita juga telah tumbuh dengan satu kesadaran:
Beribadah kepada Allah membuat kita semakin mencintai ciptaan-Nya.
Karena masjid tidak hanya mengajarkan kita cara bersujud.
Masjid juga mengajarkan kita bagaimana hidup setelah kita berdiri dari sujud itu.
Bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Bagaimana mencintai ilmu.
Bagaimana mencintai diri dan sesama.
Bagaimana mencintai tanah air.
Dan bagaimana mencintai serta menjaga lingkungan tempat Allah memberikan kehidupan kepada kita.
MARI HIDUPKAN TAMAN MEPELING
Datang untuk beribadah.
Singgah untuk bersilaturahmi.
Belajar untuk memahami.
Menanam untuk masa depan.
Memilah sampah untuk membangun kebiasaan.
Merawat lingkungan sebagai wujud kepedulian.
Penulis : Uwes Fatoni, Ketua DKM Baitul Mu'min