Ada seorang jamaah Masjid Baitul Mu’min yang memiliki usaha yang cukup maju.
Beberapa waktu lalu, dalam sebuah percakapan, ia bercerita bahwa ada satu hal yang selalu ia usahakan di tengah kesibukannya: jangan sampai menolak ketika masjid membutuhkan bantuan.
Setiap kali Masjid Baitul Mu’min membutuhkan sarana atau prasarana yang berkaitan dengan bidang usahanya, ia berusaha mendahulukannya.
Padahal pekerjaannya tidak pernah sepi. Pesanan dari pelanggan lain juga banyak. Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, ada target yang harus dikejar, dan tentu ada keuntungan yang harus diperhitungkan.
Namun kalau yang datang adalah kebutuhan masjid, ia mempunyai prinsip sederhana:
“Kalau untuk masjid, kita dahulukan.”
Yang menarik, setelah pekerjaannya selesai, ia juga tidak segan memberikan potongan biaya yang cukup besar.
Alasannya sederhana tetapi menyentuh.
Ia tahu bahwa uang yang digunakan masjid bukanlah uang milik seseorang. Uang itu berasal dari infak dan sedekah jamaah. Ada uang seorang bapak yang disisihkan dari penghasilannya. Ada uang seorang ibu yang dimasukkan ke kotak amal. Mungkin juga ada sebagian rezeki anak-anak yang dengan polosnya ikut bersedekah.
Karena itu, ia merasa harus ikut menjaga amanah tersebut.
Dan ia bercerita, semakin ia berusaha membantu masjid, Allah justru semakin memberikan jalan bagi usahanya.
Pesanan bertambah.
Pelanggan semakin banyak.
Usahanya berkembang.
Bahkan sekarang ia sudah dapat membuka dan menambah toko baru.
Apakah semua itu semata-mata karena ia membantu masjid?
Tentu kita tidak dapat memastikan rahasia rezeki seseorang. Itu adalah wilayah Allah.
Tetapi ada satu pelajaran yang sangat indah:
Tidak pernah ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.
Apa yang kita keluarkan untuk kebaikan mungkin terlihat berkurang menurut hitungan manusia, tetapi Allah mempunyai cara yang tidak pernah kita duga untuk menggantinya—dalam bentuk rezeki, kesehatan, ketenangan, kemudahan, keluarga yang baik, pekerjaan yang lancar, atau keberkahan hidup.
Begitu pula dengan kita yang mendapat amanah menjadi pengurus DKM.
Tidak semua sedekah harus berbentuk uang.
Ada sedekah waktu.
Ada sedekah pikiran.
Ada sedekah tenaga.
Ada orang yang menyumbangkan hartanya untuk masjid. Tetapi ada pula orang yang datang ke rapat, memikirkan program, menghubungi jamaah, membersihkan masjid, mengurus administrasi, mendampingi anak-anak mengaji, menyiapkan kegiatan, hingga menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang sering tidak terlihat oleh jamaah.
Semua itu adalah bagian dari memakmurkan rumah Allah.
Memang, menjadi pengurus DKM bukan pekerjaan utama kita.
Ada yang bekerja di kantor.
Ada yang berdagang.
Ada yang menjadi guru, dosen, pegawai, pengusaha, maupun menjalankan berbagai profesi lainnya.
Kita semua mempunyai kesibukan.
Karena itulah keikhlasan justru diuji ketika dua kepentingan datang bersamaan.
Ketika ada rapat DKM, apakah kita mencoba menyisihkan waktu?
Ketika ada kegiatan masjid yang harus dipersiapkan, apakah kita bersedia mengambil bagian?
Atau justru urusan masjid selalu menjadi kegiatan yang paling mudah kita geser karena dianggap “bisa dikerjakan orang lain”?
Kadang-kadang dalam rapat DKM kita melihat wajah yang hadir itu-itu lagi.
Bukan karena pengurus lainnya tidak peduli. Bisa jadi masing-masing memiliki kesibukan dan tanggung jawab yang tidak ringan.
Tetapi sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah rumah Allah mendapat bagian dari waktu terbaik kita?
Apalagi banyak kegiatan dan rapat DKM dilaksanakan pada akhir pekan agar tidak mengganggu pekerjaan utama.
Mungkin hanya satu atau dua jam.
Tetapi siapa tahu, satu atau dua jam yang kita sisihkan untuk rumah Allah itulah yang kemudian menjadi sebab datangnya keberkahan pada puluhan jam pekerjaan kita di tempat lain.
Kita semua ingin berhasil.
Kita ingin pekerjaan lancar.
Kita ingin usaha berkembang.
Kita ingin keluarga berkecukupan.
Kita mempunyai banyak rencana dan cita-cita.
Namun di tengah ikhtiar mengejar semua itu, jangan sampai kita lupa bahwa ada satu bentuk ikhtiar yang sering tidak masuk ke dalam perhitungan manusia:
mendekat kepada Allah dengan ikut memakmurkan rumah-Nya.
Bukan berarti setiap orang yang membantu masjid pasti langsung menjadi kaya.
Bukan pula berarti kita beribadah karena mengharapkan keuntungan dunia.
Justru kita membantu masjid karena Allah.
Kita memberikan waktu karena Allah.
Kita memberikan tenaga karena Allah.
Kita memberikan pikiran karena Allah.
Dan setelah itu, biarlah Allah menentukan dalam bentuk apa pertolongan dan keberkahan-Nya datang kepada kehidupan kita.
Ada kalanya berupa kelancaran usaha.
Ada kalanya berupa kemudahan pekerjaan.
Ada kalanya berupa kesehatan.
Ada kalanya berupa keluarga yang tenteram.
Dan terkadang pertolongan Allah datang dari arah yang sama sekali tidak pernah kita perhitungkan.
Maka ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mengurus masjid, jangan hanya melihatnya sebagai tambahan pekerjaan.
Lihatlah sebagai kesempatan berkhidmat.
Sebab tidak semua orang diberi kesempatan untuk ikut memikirkan rumah Allah.
Dan boleh jadi, ketika kita dengan ikhlas ikut mengurus rumah Allah, Allah sedang menyiapkan cara-Nya sendiri untuk mengurus berbagai persoalan dalam kehidupan kita.
Kita jaga rumah Allah. Kita makmurkan rumah Allah. Dan kita gantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah.
Semoga setiap waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita berikan untuk Masjid Baitul Mu’min menjadi amal yang diterima, menghadirkan keberkahan bagi keluarga kita, serta menjadi jalan datangnya pertolongan Allah dalam setiap urusan kita.
Selamat berakhir pekan.
Semoga akhir pekan kita tidak hanya menjadi waktu untuk beristirahat, tetapi juga menjadi waktu untuk mengambil bagian dalam memakmurkan rumah Allah.
Penulis, Uwes Fatoni